Tampilkan postingan dengan label CURAHAN HATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CURAHAN HATI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2016

Sifat Si Kecil yang Membuat Kami "MALU"

Anak jaman sekarang memang beda dengan anak jaman dulu. Dilihat dari sikap dan prilaku saja sudah jauh berbeda. Dulu kami dididik dengan lumayan keras ya, yang akhirnya membuat kami sangat menurut dengan perintah orang tua, sopan, dan tahu tata krama.
Anak sekarang malah jauh dari itu semua, banyak fenomena anak didik tidak menghormati guru bahkan orang tuanya. Sampai-sampai hukumpun bertindak. Bagaimana dengan negeri ini selanjutnya bila sebagian besar anak Indonesia seperti ini?

Orang tualah yang sangat berperan dalam menentukan sifat dan sikap anaknya, jangan semua diserahkan kepada guru. Guru hanyalah orang tua kedua anak kita saat mereka membutuhkan tambahan ilmu pendidikan, selebihnya adalah peran orang tua dirumah.

Kami sebagai orang tua juga tak ingin anak kami kelak mempunyai sifat dan sikap yang buruk terhadap lingkungannya. Walaupun kami adalah orang tua yang tidak sempurna, setidaknya anak kami harus jauh lebih sempurna daripada kami.

Kami adalah orang tua yang sama-sama mempunyai sifat egois, yang akhirnya anak kamipun memiliki sifat yang sama. Bagaimana cara menetralkan jika kami sedang emosi? Salah satu dari kamipun selalu mengalah dan mendinginkan suasana. Tapi, tidak untuk si kecil. Dia selalu meminta maaf, walaupun kami yang suka menyalahinya. "Ma/Yah... maaf ya?" Kalau sudah mendengar kata-kata itu pasti kami diam dan emosipun jadi guyonan. Tak jarang anak kami hanya meminta maaf saja, biasanya si kecil ini berbisik, lalu mencium pipi kami. Luluhlah kami berdua.

Anak kami jarang sekali meminta-minta, entah karena kami jarang mengajak dia ke toko atau bagaimana, setidaknya dia jarang minta ini dan itu. Sekalipun meminta dia selalu berbisik dan berkata "Mama punya uang?" (melas ya...). Ini perkataan anak usia 2 tahun, dengan sopannya dia berbisik dan minta izin dahulu jika ingin sesuatu, untuk perkataan itu si kecil menurut kalau memang saya jawab "Belum ada uang sayang, tunggu ayah ya?". Dan biasanya dia suka berbisik untuk minta izin jika didalam keramaian, seperti ada tamu atau berada ditempat ramai. Tidak hanya itu, untuk melihat tv pun dia izin dulu walaupun saya bilang tidak boleh tapi untuk yang satu ini dia sedikit agak ngambek kalau saya tidak izinkan, jika alasan saya dia ikuti diapun mengajak saya untuk bermain bersama. Saya memang agak ketat jika anak saya ingin melihat tv ataupun bermain gadget, lain dengan suami saya. Karena saya tidak mau dia hanya diam dan tidak aktif bermain diluar. Alasan lain karena banyak dampak negatif jika seusia anak kami melakukan hal itu.

Si kecil yang satu ini juga hobi sekali mengucapkan "terima kasih". Kata simpel ini selalu dia ucapkan kapan saja, bahkan setelah selesai bermain bersama kamipun dia mengucapkan terima kasih. "Terima kasih mama, sudah bermain bersamaku" :D lucu ya, kata-katanya seperti orang dewasa. Kadang tak lupa dia untuk mencium pipi kami setelah mengucapkan terima kasih.

Ini yang jarang sekali dilakukan oleh batita, yaitu mengucapkan "permisi". Kebanyakan batita suka sekali menerobos jika berjalan diantara banyak orang yang sedang duduk dilantai (biasanya jika ada acara pengajian/arisan), tapi si kecil jika datang sifat baiknya dia selalu melangkah hati-hati untuk menghindari kaki orang yang sedang duduk bahkan kue-kue yang selalu jadi sajian bisa dihindari, tak lupa juga dia berkata "permisiiii" (kadang pakai bahasa jawa, "amitttt"). Walaupun ini jarang dilakukan, tapi setidaknya dia tahu kondisi apa kata itu dipakai.

Si kecil adalah penghibur hati, ketika salah satu dari kami sedang capek atau kesal biasanya anak kami suka menghibur. Hal ini yang selalu membuat kami jadi bahagia sekali ketika dia berbisik kepada ayahnya ketika mamanya capek atau sebaliknya "yah, cium mama yuk!" dan tiba-tiba dia lari bersama ayahnya dan mencium pipi saya sampai basah semua. Biasanya suami saya menyebutnya "wet kiss" hehehehe :D

Kami bangga dengannya, dan malu jika dia melakukan hal itu. Kenapa? karena kami jarang bahkan tidak pernah melakukan hal itu kepada orang tua kami. Alhamdulillah, Allah sudah menitipkan si kecil ini kepada kami. Walau tidak semua kami ajarkan hal-hal itu, tapi kami hanya membiasakan bersikap seperti itu agar nantinya anak kami menjadi orang yang selalu rendah hati dan menghormati semua orang.

"Selalu jaga sifatmu yang seperti ini nak, walaupun kelak kau sudah besar nanti...amiin"
Read More

Kamis, 15 September 2016

Kami adalah "TEAM"

Kami keluarga kecil yang baru belajar untuk hidup sendiri. Setengah tahun saya telah meninggalkan zona nyaman, dan 3 bulan kita mulai belajar menata hidup dalam rumah yang sederhana.

Banyak sekali yang dipikirkan untuk hidup bertiga dengan problematika tentang "uang", ya... UANG.
Uang = Rezeki. Dan kita selalu percaya kalau rezeki itu pasti ada. Walaupun pernah kita mengalami masa sulit itu.

Dimulai dari mencari rumah. Cukup satu minggu kita mendapat rumah yang diimpikan. Alhamdulillah orang tua kita mau membatu biaya uang muka yang bagi kami itu adalah mustahil. Uang muka yang menguras tabungan kami, tapi tidak, kami hanya kebagian 10% dari itu dan sisanya adalah bantuan ibu kita.

Bulan berikutnya kita masih dibuat pusing dengan yang namanya notaris, pasti uang lagi yang keluar. Dengan tabungan seadanya akhirnya masalah ini terselesaikan. Setelah itu kita tak mau tinggal dengan rumah yang masih belum tertata, dengan tidak ada aliran listrik ke lampu-lampu, aliran air, dapur, tempat cuci piring, dan suasana rumah yang belum di cat sesuai dengan keinginan kita. Ya, uang keluar lagi... kali ini dana lebih besar dan tak bisa diperhitungkan. Untung kita masih punya sisa tabungan dan tabungan si kecil. Keluarlah uang dari sana.

Setelah rampung semua, rumah impian kini sudah layak huni. Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan walaupun uang tabungan kita terkuras habis. Dan kini kita cukup memikirkan bagaimana kehidupan selanjutnya? Apa kita mampu untuk bertahan dengan pengeluaran tiap bulan yang cukup besar seperti cicilan rumah, belanja bulanan, arisan dan tentu saja makan sehari-hari. Karena gaji suami saya tidak cukup untuk itu semua, gajinya hanya cukup untuk cicilan rumah dan belanja bulanan saja. 

Dibulan pertama tinggal dirumah impian, kita menjadi vegetarian. Memulai untuk hidup hemat, karena pemasukkan cuma dari suami. Penjualan kue yang kami kerjakan masih belum memenuhi target. Akhirnya kita putar otak untuk menghadapi masalah keuangan ini.

Kita adalah "team", dan kita harus lebih baik dari bulan berikutnya. Karena profesi saya bukan hanya ibu rumah tangga biasa, akhirnya kita berencana meningkatkan omset penjualan. Ya, penjualan kue yang sudah saya kerjakan dari dulu kini harus lebih besar omsetnya agar kita mendapat tambahan uang yang cukup.

Tiap hari kami harus bangun pagi bahkan dini hari agar kue yang kami buat itu "fresh", tiga macam kue yang kami kerjakan selalu selesai tepat waktu. Saya dan suami bekerja sama dalam hal ini, untuk si kecil biarkalah dia menikmati tidurnya agar dijam-jam saat dia bangun saya ada untuknya. Banyak halangan ketika kita memulai lagi usaha ini, mulai dari gas yang habis di jam 3 pagi, sampai setelah kue jadi, malah lupa tidak ada gula untuk garnisnya. Jadilah suami saya keluar pagi-pagi untuk membeli itu semua di swalayan 24 jam yang ada di pinggir kota. Mengeluh? tidak, malah kita mencari cara bagaimana ini tidak terjadi lagi.

Beberapa hari kemudian, saya mencoba untuk membuat es cream. Kenapa? karena anak saya sejak tinggal disini tidak makan es cream sama sekali, saya merasa kasihan ketika dia merengek minta es cream, tapi tak ada yang lewat (kasian...kasian...). Akhirnya ada ide untuk membuat es cream itu, karena ini berupa jajanan anak-anak, dan lewat saran suami es cream ini bisa dibawa ke sekolah akhirnya kami sepakat untuk menjual dan mulai membuatnya disiang hari. 

Kita adalah "team", suami membantu anakpun ikut membantu. Si kecil yang tidak bisa diam ini memang suka membantu saya saat saya bekerja didapur. Mulai dari mengolesi loyang, mengaduk adonan, dan juga membuka kantong plastik, betapa lucunya dia. Kamipun begitu, disaat kami sibuk membungkus es cream, kami tidak hanya fokus pada itu saja, tapi juga fokus dengan pola bermain anak kami. Ada saja sela kita bisa bermain bersama.

Dengan adanya team yang hebat ini, akhirnya bertambahlah omset penjualan kami.
Team yang hebat bukan karena salah satu dari kami yang kuat dan yang dominan dalam masalah ini. Tapi karena kekuatan untuk bekerja sama dalam mencapai satu tujuan. Tidak ada bos, tidak ada anak buah. Selalu menghormati satu sama lain, suami, istri, anak, semua berperan, semua sama. Tidak ada saling menyalahkan, yang ada selalu mendukung dan berbagi saran agar penjualan ini semakin maju. 
Alhamdulillah... Allah selalu melimpahkan kesehatan agar kami tetap beraktifitas seperti dulu kala. Semoga dengan bertambahnya rezeki yang diberikan Allah ini, semakin bertambah pula keimanan dan ketakwaan kita, karena hanya itu wujud terima kasih kita kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Amiin :)


Baca juga: 
Rezeki setelah Resign! Apa Cukup?
Takut Resign, Karena Masalah Keuangan? Cuma Bayangan Istri yang seperti ini!


Read More

Selasa, 13 September 2016

Rezeki setelah RESIGN? Apa cukup?

Setelah resign, apa yang saya alami? Diam dirumah (rumah ibu saya) mengasuh bos kecil yang super aktif (tidak "nakal" lho ya). Jenuh sekali diam dirumah yang aktifitasnya cuma begitu-begitu aja, main sama si kecil dan menghabiskan uang. Jenuh karena apa? Karena kita sudah biasa bekerja, kita tak biasa diam dirumah cuma begini dan begitu saja.


Satu bulan jenuh, dan bulan berikutnya akhirnya ide itu mengalir. Berawal dari si kecil yang doyan sekali jajan (beli-beli kalau orang sini bilang), saya akhirnya memutar otak agar si kecil ini tidak doyan jajan. Dapat resep gampang dari internet, akhirnya saya coba buat sendiri. Ya, untuk pertama kali dari orang yang tak bisa memasak bahkan tak pernah sama sekali memasak sendiri dirumah, dan ternya saya bisa membuat Kue Brownies Milo, kue yang gampang dibuat ini dengan mudah saya praktekan sekitar 1 jam dimulai dari belanja bahan sampai selesai membuat. Dan apa yang terjadi, kue yang dikenal bantet ini enak sekali, anak saya doyan, ibu saya pun juga doyan, sampai saya menyisakan sedikit buat suami saya. Suami saya pun memberi saran "dari pada mama bikin kue kebanyakan, mending ditaruh disekolah saja" Alhamdulillah ide dari suami ini menjadi ladang rejeki bagi saya. Ya...dari pada saya diam aja dirumah bermain sama si kecil ini, mending saya ambil sedikit waktu untuk membuat kue, Selain saya bisa bekerja dirumah, anak dan suami saya juga tidak saya tinggalkan lagi.

Satu bulan mencoba berjualan kue, alhamdulillah banyak yang suka dan ada juga yang pesan. Saya mulai untuk membuat pembukuan, cek pemasukkan dan pengeluaran. Dan tidak disangka pemasukkan dibulan pertama sama dengan gaji pertama saya masuk kerja. Dibulan-bulan berikutnya pun pemasukkan yang saya peroleh meningkat sedikit demi sedikit. Bersyukur tiada habis untuk Sang Maha Pencipta, dengan ini saya tambah yakin dan percaya kalau rezeki itu sudah ada dan gak bakal kemana.

Ketika anak sekolah mulai libur panjang kue saya juga ikut libur? tidak. Hampir setiap hari saya mendapat pesanan melalui media online. Walaupun kadang yang pesan tidak sama saat saya menaruh kue di sekolah, tetapi kalau sudah yang namanya rezeki saya bisa dapat lebih dari biasanya sampai suami saya malah ikut membantu. Alhamdulillah...:)

Enam bulan tidak bekerja kami mendapat rezeki yang luar biasa. Tidak disangka kami yang begitu mengidamkan tinggal dirumah sendiri akhirnya tercapai. Saat kami bingung mencari dana untuk rumah yang kami impikan ternyata ibu dan bapak kami turut serta membantu. Alhamdullilah...kini kami bisa tinggal dirumah sendiri, begitu indah dan bahagia merasakan nikmat Allah SWT.

Bagaimana? Masih belum yakin dengan Rezeki Allah SWT?

Sekedar ilustrasi yang saya peroleh dari paman saya ketika pengajian "Kita mendapatkan rezeki dari Allah sebesar 500 seumur hidup. Jadi, mulai kita lahir sampai kita mati uang 500 juta itu sudah hak kita. Walaupun kita bekerja sekeras apa kalau Allah sudah menetapkan segitu, kita ya hanya dapat segitu."
Artinya kita sebagai wanita yang sudah tidak bekerja lagi tak perlu khawatir lagi masalah uang, karena apa? uang itu nanti akan datang melalui suami, anak bahkan orang tua, bisa juga melalui orang lain seperti tetangga dan teman-teman kita. 
Seperti saya waktu bekerja di kantor dari pagi hingga hampir magrib, gajinya sama ketika saya bekerja dirumah dengan menjual kue, saya tidak berjualanpun ada saja uang yang didapat suami saya. 
Bisa saja ketika kita bekerja gaji kita (wanita) lebih besar dari pada suami, ini yang menjadi kita lebih dominan dalam keluarga dan kita jadi takut meninggalkan pekerjaan yang akhirnya menjadi penyebab anak dan suami terlantar. Semoga kita bukan orang seperti itu. Amiin.
Read More

Minggu, 11 September 2016

Aku Anak Mama!

"Heyyyy!!! kamu anak mama ya? hahahahaha :D"
Biasaya ini bullian ketika jaman saya dari SD sampai SMA, bahkan ada teman saya yang dibulli sampai dia sudah menikah, tapi untung bukan saya yang dibulli ya... :D


Anak mama, julukan bagi anak yang masih gantung aja ke "emaknya", apa-apa mama dan selalu mama... Biasanya teman saya yang kena buli anak mama ini selalu sedih, dan gak mau main lagi... Iyalah, wong di ejek didepan umum, gimana gak malu? 

Bagi saya yang kini sudah menjadi mama-mama malah bangga kalau anak saya di ejek (bukan di ejek ya, tapi dikatain) begitu, bukan hanya saudara, kadang temanpun bilang begitu... Tapi yang namanya anak batita, ya cuek aja lah... namanya aja gak ngerti, malah sikecil ini tambah nempel sama mamanya (saya).

Anak saya, mulai bayi, bahkan baru lahir sudah sama saya (jelas, wong ibunya). Padahal baru melahirkan katanya para "orang tua" harus tidur pisah sama bayi... Saya gak mau lah, nanti kalau anak saya bangun gimana? kalau pipis atau pup atau minta susu pas saya gak dengar gara-gara keenakan tidur gimana? Jadi cibiran kan kalau sudah gak nurut kata-kata para orang tua. Mereka hanya takut kalau nanti ibunya gak sembuh pasca melahirkan, karena waktu itu saya mendapat 22 jahitan hehehehe :D Intinya saya tetap tak mau jauh dari si kecil yang menggemaskan ini. Memang sudah jadi komitmen kita ya, kalau anak kami nanti harus selalu bersama orang tuanya.

Setelah usia 7 bulan anak saya sempat saya titipkan ke tetangga, maklum saya pengen kerja tak enak sama ortu dan saudara ketika saya jadi pengangguran yang cuma ngasuh anak saya sendiri, gelar saya juga sarjana masa cuma nimang anak aja dirumah (pikiran saya dulu). Awal Juni masukkan lamaran, akhir Juni saya dipanggil dan Bulan Juli saya mulai bekerja. Tak apalah, dekat aja dengan rumah, istirahat juga bisa pulang dan menyusui si kecil. Kegiatan ini saya lakukan sampai 1,5 tahun lamanya. Tapi si kecil tetap aja "gandol" sama saya... dan gak pernah mau sama pengasuhnya ketika melihat saya menjemput atau mengantar paksa dia. Dia selalu menangis ketika saya antar, dan selalu menunggu ketika tahu waktu dijemput (sedih saya).

Pernah waktu hari minggu ketika ada pekerjaan tambahan yang mengharuskan saya pergi kekantor, si kecil saya berikan ke neneknya, tapi dia malah nangis sejadi-jadinya dan memeluk saya erat. Padahal segala cara ibu saya lakukan buat ambil si kecil dari saya, tapi tak berhasil. Akhirnya dia saya ajak juga bekerja (untung bos saya ngerti :D). Saya sampai heran sama si kecil ini, kenapa gak bisa ditinggal cuma sebentar saja... padahal anak-anak kecil lainnya selalu enjoy dengan nenek atau kakek mereka.

Sampai sekarang saat usianya hampir 3 tahun ini, selalu saja menyelidiki kalau saya tetap didapur atau melangkahkan kaki keluar dari dapur dia mesti bertanya "mama, dimana ma?" padahal dia asyik nonton tv, tapi selalu tahu suara kaki saya melangkah :). 

Dan ini yang membuat saya bangga sekali, ketika ada pertemuan keluarga, si kecil selalu duduk dipangkuan saya, tak mau pindah sedikitpun padahal saya sudah memaksa dia untuk duduk sendiri "dek, duduk sendiri ya? disamping mama sini" dia cuma geleng-geleng "kaki mama sakit dek, adek sudah besar, mama gak kuat, duduk sendiri di depan mama dech" geleng-geleng lagi, dan malah PW. "Eh, sama ayah sana, ayah makan kacang (kesukaan dia)" mana ma? Alhamdulillah mau nurut :D gak lama saat jam istirahat, saya ikut membantu mengeluarkan makanan dan kebetulan si kecil tahu, akhirnya enak-enak makan kacang sama ayahnya, dia langsung menghampiri saya "mau kemana ma?" saudara saya yang lain malah berkata "sini le, mamanya masih ngeluarkan nasi, kamu disini aja" dengan cemberut dan mau nangis anak saya bilang "sama mama aja" dan akhirnya dia ikut dibelakang saya keluar masuk bawa makanan. Setelah selesai kita duduk bersama lagi sambil menikmati makanan yang sudah dikeluarkan, tak sengaja kami duduk diantara para nenek yang memangku cucunya. Tiba-tiba ada saudara yang nyeletuk "le, kamu diam disini ya sama nenek, mamamu mau naruh piring" dan jawaban anak saya tetap "sama mama aja" mungkin saudara saya gemes dan mencubit pipinya, dan karena saya tahu itu tiba-tiba keluar dech dari mulut saya "Lek (panggilan untuk bibi/paman), ini anak mama, bukan anak uti, tante atau orang" dan para saudara yang lain langsung diam memandang saya dan mendekap cucu mereka. "Ups, saya lupa kalau ternyata ada diantara nenek-nenek yang bersama cucunya dan mama mereka??? (saya tak mau melihatnya)"

Memang ada rasa bangga ketika si kecil ini selalu menempel pada mamanya, tapi yang selalu saya pikirkan, "Apakah saat besar nanti dia akan selalu begini?" Kalau harapan kita sebagai orang tuanya, sangat ingin sekali waktu mereka besar nanti tetap mejadi anak mama ayah, kita ingin mereka tidak menganggap kita hanya sebagai orang tua yang selalu dihormati, tapi juga sebagai teman untuk bermain, sahabat sebagai tempat mereka berkeluh kesah.

Selalu sehat dan bahagia untuk cinta kita "Zhian"
Read More

Sabtu, 10 September 2016

Takut Resign Karena Masalah Keuangan? Cuma Bayangan Istri Yang Seperti Ini!

"Resign, tapi nanti bagaimana kalau yang kerja hanya suami? Apa cukup?"
Itu bayangan yang selalu hadir ketika kita berada dalam situasi ingin dan harus resign. 
Ya, berdasarkan pengalaman yang saya alami. Pertama resign karena keinginan saya karena saya ingin kuliah. Kedua resign karena suami tidak ridho saya bekerja lagi karena alasan kesehatan dan kebahagiaan anak dan suami. Kedua situasi ini sungguh berbeda.
Situasi pertama saya masih dalam tanggungan orang tua dan belum menikah, tapi saat itu saya sedang bekerja dan ingin sekali melanjutkan kuliah. Saya masih santai masalah keuangan karena masih ada orang tua yang membiayai saya. Benar saja, rezeki yang didapat orang tua saya selalu lebih dari cukup, padahal adik saya juga kuliah, tapi kita beda jalur. Adik saya dijalur reguler dan saya di jalur ekstension. Alhamdulillah adik saya pintar selama kuliah, jadi dia selalu dapat beasiswa. Sedangkan saya full biaya sendiri (orang tua maksudnya). Itu adalah rezeki yang diperoleh ibu saya untuk membiayai saya kuliah, dan alhamdulillah saya lulus tepat waktu. Tapi, disisi lain saya yang biasa pegang uang sendiri dari hasil bekerja, sudah mulai mengurangi berbagai keinginan, maklum saya orangnya konsumtif. Banyak sekali keinginannya, apalagi masalah kuliner. Akhirnya saya nebeng sama mantan pacar saya (read suami saya sekarang) :D

Situasi kedua disaat saya sudah menikah, mempunyai anak diusia 7 bulan dan mulai bekerja kembali hingga 1 tahun bekerja suami saya menyuruh untuk berhenti, tapi tidak saya tanggapi dengan berbagai alasan (intinya masalah keuangan). Dan 6 bulan terkahir bekerja ada saja masalah dalam keluarga kecil saya seperti kesehatan anak saya yang mengharuskan saya berhenti kerja. Dengan situasi seperti ini, banyak yang saya pikirkan mulai dari keuangan dan masa depan anak saya nanti. "Kalau saya tidak bekerja apa cukup nanti? Suami hanya guru honorer, usaha lain juga tidak ada. Bagaimana nanti kalau si kecil mulai sekolah? ini masih satu, kalau ada dua atau tiga anak lagi, apa ya cukup? Nah, terus kapan bisa beli rumah sendiri untuk bisa hidup mandiri?" Itu yang selalu saya pikirkan, hingga 6 bulan berlalu dan anak saya sakit yang mengharuskan saya hari itu juga harus berhenti kerja. Siap tak siap harus berhenti kerja? Ya... harus...

Allah sudah menjanjikan rejeki kepada manusia yang sudah berkeluarga. Seperti firman Allah berikut:
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-haba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui" (An Nuur: 32)
Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, saat tanggung jawab seorang lelaki bertambah dengan memberikan kewajiban memberi nafkah pada sang istri dan anak-anaknya, maka Allah akan memberi rezeki yang lebih. Ini yang kami yakini, rezeki tidak hanya dalam bentuk uang saja, tetapi juga kesehatan, kebahagiaan dan lainnya yang kita peroleh tanpa kita sadari.

Setelah saya mengajukan resign, dan anak saya sudah cukup sehat, suami saya tiba-tiba mengajak kami untuk pergi berlibur diakhir tahun. Senang? Iya... Ragu? Iya... Saya hanya memikirkan uang saku dari mana? Wong saya resign cuma dapat gaji saja, apa ya cukup? Cuma Allah dan suami saya yang tahu...

Akhir tahun, antara libur Natal dan Maulid Nabi kami benar-benar berangkat berlibur. Betapa senangnya anak saya yang umurnya baru genap 2 tahun itu. Perjalanan yang hanya naik kendaraan umum ini membuatnya bahagia dan gembira. Tidak ada kata capek bagi anak saya, dia hanya mau jalan dan terus berjalan walaupun di dalam kendaraan dia tetap tak mau diam. Alhamdulillah... tak luput juga kita harus bersyukur kepada Allah, selain Allah memberi kesehatan pada kami semua, Allah juga memberi kebahagian. Kalau urusan uang itu bisa dicari kata suami saya, yakinlah sama Allah ta'ala...

Bersambung :)
Read More

Selasa, 30 Agustus 2016

Anak Sakit, Wujud "Protes" Kesibukan Orang Tua


"anakku sering sakit ya... padahal makannya udah bergizi, yang sakit panas, batuk, pilek, sampai diare yang selalu membuatku cemas saat pagi hingga sore." Ya... pagi hingga sore aku kerja, dan tanggung jawab besar yang menuntunku untuk menitipkan anakku ke orang lain. Berangkat jam 8 pulang jam 5 setiap hari, kecuali minggu.Dikantor pekerjaan selalu penuh, gak jarang kita antar teman sekantor untuk berbincang-bincang walaupun sedikit saja. Kerja didepan komputer yang berkepanjangan juga membuat syaraf mataku terganggu.Tak ada yang namanya awal atau akhir bulan. Tiap hari pekerjaan selalu harus dikerjakan (bisa dibilang wajib ya), lengah sedikit bisa telat pulang. Ini pilihanku, pilihan karena aku seorang sarjana komputer, seorang sarjana yang berprinsip pendidikan tinggi harus mendapat pekerjaan yang tinggi pula, sesuai dengan bidangnya dan harus menjadi wanita karir yang rela meninggalkan anak kecil.

Suami, ya suamiku bisa dibilang kurang akrab dengan ibuku (maksudnya kalau bicara cuma seperlunya saja). Mungkin itu yang membuatnya kadang malas pulang tepat waktu. Akhirnya si kecilpun seharian bersama orang lain. 

Sedih ya, kalau pagi diatar kerumah orang, dan dia menangis karena tidak mau. Terpaksalah yang saya lakukan untuk meninggalkannya dengan orang lain, walaupun kadang di perjalanan menuju kantor saya sering menangis mengingat tangisannya. Saya cuma bisa bergumam "nanti istirahat mama jemput dek...tenang...tenang...". Selepas istirahatpun begitu, saat dia kuantar, dia cuma bisa nangis dan saya cuma bisa menjawab, "nanti kalau mama pulang tak jemput ya dek, adek main disini dulu ya...mama mau cari uang buat jalan-jalan sama beli susu adek". Selama 1,5 tahun itu yang saya lakukan buat anak saya, sampai anak saya paham dengan kondisi saya yang harus bekerja. Dia sudah tidak menangis lagi, cuma diam saat saya tinggal dan bilang dengan polosnya "mama mau kerja ya, adek diam disini ya". Ya, si kecil yang sudah berumur 1 tahun ini pengertian sekali sama kondisi mamanya.

Selama 1,5 tahun itu kondisi sikecil jarang sehat, karena saya ibu baru, saya cuma pasrah dengan pengasuh anakku. Ya, pengalamannya yang menjadikan saya sangat pasrah saat anak saya sakit.
Sakit yang diderita si kecil memang saya anggap wajar, kalau cuma panas, batuk, pilek saya masih santai, tapi kalau sampai muntah (maaf) sampai diare saya agak panik. Ini yang menjadi teguran dari Allah untuk saya, menyepelekan kesehatan anak. Padahal ini adalah aksi protesnya karena seharian ditinggal mamanya.

Semakin lama sakit yang diderita bukannya tambah baik, malah tambah buruk. Walaupun cuma panas, tapi kalau tiap bulan apa ya tak kawatir juga. Sampai suami saya menyuruh saya untuk resign dari pekerjaan setelah Lebaran.

Banyak pertimbangan yang saya pikirkan untuk resign dari pekerjaan, mulai dari "bagaimana dengan tanggapan ibu saya nanti, bagaimana dengan karir saya selanjutnya, bagaimana dengan keuangan keluarga selanjutnya, bagaimana dengan tanggapan keluarga besar dan orang lain, bagaimana dengan kantor ini dll". Akhirnya dengan banyak pertimbangan saya menunda rencana itu, dan saya berpikir mungkin karena lingkungan anak saya seperti ini.

Oktober 2015 saya menaruh anak saya ketempat penitipan anak (TPA) yang jaraknya jauh dari rumah saya. Saya rela anak saya berangkat pagi pulang sore, karena saya berfikir Ini tidak hanya sekedar penitipan anak, tapi sekaligus dengan sekolah usia dini, tidak hanya itu ditempat ini juga diajarkan mengaji, solat sampai hafalan Al Quran. Ya, ini merupakan tempat terbaik bagi anak saya menurut saya dan suami, tapi tidak menurut si kecil.

1 bulan disana, anak saya sudah bisa buang air kecil sendiri dan hafal surat-surat pendek. Awal bulan ke-2 anak saya sakit, 3 hari panas tak turun-turun disertai diare, karena saya mendapat jaminan kesehatan dari kantor saya masih tenang masalah biaya. Kami bawa si kecil ke klinik tempat rujukan pertama, saya minta cek darah untuk memastikan anak saya tidak terjangkit DB seperti pengalaman suami saya dulu, walaupun si dokter tidak memberi saran, tapi saya tetap meyakinkan dokter itu, karena resiko anak saya yang umurnya masih 23 bulan ini. Dengan perasaan was-was yang takut nanti si kecil di opname saya masih memikirkan bagaimana nanti pekerjaan saya. Dan ternyata setelah cek darah, anak saya didiagnosa gangguan pencernaan, ada trombosit berlebih pada saluran pencernaan anak saya yang membuat dia panas tak kunjung sembuh. Apa yang salah dari makanan anak saya, padahal dia saya bekali makanan sendiri dan disana juga tidak ada jajan sembarangan (setau saya). 3 Hari ijin tidak kerja untuk merawat si kecil dan hari berikutnya anak saya tetap saya titipkan ke TPA itu. Selang 2 minggu anak saya drop lagi, biasanya ceria saat kujemput, tapi kini dia diam gak mau bicara, sampai kita bujuk untuk makan nasi goreng kesukaannya, dia cuma tutup mulut, saya bujuk lagi beli es cream dia juga diam tutup mulut. Akhirnya kita pulang dengan penuh tanya, "kenapa kamu dek?". Sampai rumah anak saya tidur pulas. Tak minum susu seperti biasanya. Tepat tengah malam, anak saya batuk seperti sesak dan tidak bisa bernafas, saya dan suami kaget dan langsung memberi pertolongan pertama, takut dia tersedak atau apa. Dia nangis sambil batuk-batuk seperti sesak nafas, ibuku langsung bangun dari tidurnya dan keluar melihat cucunya yang menangis tak mau diam. Semua pertanyaannya cuma lewat begitu saja ditelinga. Saya cuma berpikiran, "kamu kenapa nak? ayo batuknya berhenti, jam segini gak ada tempat buat berobat yang buka." Dan tiba-tiba ada satu kalimat yang membuyarkan pikiran saya. "kalau anakmu sakit terus, kamu harus berhenti kerja ma! mau anakmu begini terus?" saya langsung kaget mendengar ucapan suami saya itu, dan ibu saya pun langsung menyetujui itu, "kamu gak usah kerja lagi, diam dirumah, biar dia belajar sama mamanya." Mendengar itu semua pikiran langsung tenang, dan gak terasa si kecil nangisnya mulai mereda. Alhamdulillah... kata-kata ini membuat saja tenang dan sejuk, entah kenapa pikiran tentang resign itu kini hadir kembali dan mulai terang seperti ada harapan baru ketika saya nanti tidak bekerja lagi.

Keesokan harinya saya ijin untuk memeriksakan anak saya, dan kali ini anak saya terserang sakit yang menyerang pernafasan. Ya Allah, kenapa lagi dengan si kecil? Setelah pencernaan diserang, sekarang gati pernafasannya, apa karena dia terlalu lelah karena sekolah barunya... Dari sini suami saya menasehati saya lagi, "sudahlah mama resign aja, percuma kerja kalau anaknya sakit terus, kerja dibayar tapi anak sakit apa bahagia? percuma kan? Gaji mama berapa sih? Masih gak percaya sama Allah? mending diam dirumah jaga anak, masalah rejeki gak akan tertukar, Insya Allah kalau kita yakin rejeki pasti ada, buat anak dan mama. Percaya dan yakin aja sama Allah ya." Lagi-lagi kata-kata suami saya itu mendinginkan hati saya dan meyakinkan saya untuk berbicara pada atasan agar mengijinkan saya untuk berhenti kerja. Sangat berat rasanya saya memohon untuk resign. Dan mau tidak mau itu harus dilakukan demi anak dan suami. Ya…demi keluarga kecil saya.

Alhamdullilah, diawal tahun 2016 saya memulai hari-hari saya dengan si kecil. Keajaiban apa yang saya dapatkan? Banyak sekali... Mulai dari memantau sendiri perkembangan anak, kesehatan si kecil yang semakin membaik, dan rejeki dari Allah yang lebih dari cukup. Sampai saat ini anak saya jarang sakit dibandingkan dengan dulu ketika saya bekerja. Kini si kecil tidak pernah protes lagi, dia selalu ceria walaupun kita sering beradu argumen (anak saya sudah pandai bicara sejak umur 1 tahun), dia sangat hiperaktif sampai saya kualahan melihat tingkahnya dan kadang membuat saya naik darah, tapi dengan itu semua si kecil ini tetaplah si batita yang ceria dan tetap sayang pada ayah dan mamanya dan tetap mengerti akan kondisi mamanya... We Love U nak... "ZHIAN" 

Besar penyesalan yang saya rasakan, hilang masa-masa lucu bersama anak saya selama 1,5 tahun. Ini adalah keingkaran saya terhadap komitmen waktu si kecil lahir "kamu adalah anak mama dan ayah, bukan anak uti (nenek), tante, ataupun orang lain". 
Kenapa saya terlalu egois... ya karena saya masih memikirkan masa depan tanpa adanya rasa percaya sama Yang Maha Esa.
Sebelum saya resign dari pekerjaan, saya selalu dibayang-bayangi oleh 2 quote ini
"Anak adalah titipan Allah, kenapa kita masih menitipkan pada orang lain?"
“Beranikah kamu menitipkan barang berharga milikmu ke orang lain? Seperti smartphonemu? Dan bagaimana dengan anakmu?”

Baca juga : Gelarku Sarjana dan Menjadi Ibu Rumah Tangga, I'm Fine... 
Read More